Danantara Pangkas 1.077 BUMN Demi Efisiensi

Danantara Pangkas 1.077 BUMN Demi Efisiensi
Ilustrasi. Foto: Danantara Pangkas 1.077 BUMN Demi Efisiensi

Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) melanjutkan langkah konsolidasi besar-besaran terhadap perusahaan pelat merah. Dari total 1.077 entitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ada saat ini, ratusan perusahaan telah digabungkan dan jumlahnya akan terus dipangkas guna meningkatkan efisiensi serta memperkuat daya saing nasional. CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, melaporkan bahwa hingga kini sebanyak 258 entitas telah berhasil dikonsolidasikan dan sekitar 300 entitas lainnya segera menyusul dalam tahap berikutnya.

Langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi menyeluruh yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk menyederhanakan struktur korporasi negara yang selama ini dinilai terlalu gemuk. Menurut Rosan, konsolidasi dilakukan bukan semata-mata untuk mengurangi jumlah perusahaan, tetapi untuk membangun tata kelola yang lebih kuat, meningkatkan efisiensi operasional, dan menciptakan BUMN yang lebih kompetitif di tingkat global.

Selama bertahun-tahun, banyak perusahaan negara berkembang menjadi jaringan usaha yang sangat kompleks dengan berbagai anak perusahaan, cucu perusahaan, hingga entitas turunan lainnya. Struktur yang berlapis tersebut dinilai menimbulkan biaya tambahan, memperlambat pengambilan keputusan, dan menciptakan berbagai inefisiensi dalam operasional bisnis. Karena itu, Danantara memilih menggabungkan perusahaan-perusahaan yang memiliki lini usaha serupa agar lebih fokus dan efektif.

Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria sebelumnya menjelaskan bahwa target jangka panjang pemerintah adalah memangkas jumlah entitas BUMN menjadi sekitar 200 hingga 300 perusahaan. Dari evaluasi internal, sekitar 52 persen dari total perusahaan yang ada saat ini tercatat mengalami kerugian dengan nilai akumulasi mencapai sekitar Rp20 triliun. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan utama perlunya restrukturisasi besar-besaran.

Meski jumlah perusahaan akan berkurang drastis, Danantara memastikan tidak akan terjadi pemutusan hubungan kerja massal. Pemerintah menegaskan seluruh pekerja tetap akan menjadi bagian dari perusahaan hasil konsolidasi. Menurut Dony, biaya tenaga kerja yang harus ditanggung jauh lebih kecil dibanding potensi efisiensi yang dapat dihasilkan dari penyederhanaan struktur korporasi. Bahkan, penghematan yang diperkirakan muncul dari proses konsolidasi disebut bisa mencapai puluhan triliun rupiah setiap tahun.

Selain meningkatkan efisiensi, konsolidasi juga diarahkan untuk memperkuat kontribusi BUMN terhadap pembangunan ekonomi nasional. Dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo, Rosan menyampaikan bahwa Danantara tidak hanya fokus pada restrukturisasi perusahaan, tetapi juga menyiapkan berbagai sektor baru yang berpotensi menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Sektor pariwisata, industri kreatif, dan penyelenggaraan event internasional menjadi beberapa bidang yang masuk dalam pembahasan.

Pemerintah berharap perampingan BUMN dapat melahirkan perusahaan-perusahaan negara yang lebih sehat, profesional, dan memiliki daya saing global. Dengan struktur yang lebih ramping dan efisien, BUMN diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap penerimaan negara, investasi, serta penciptaan lapangan kerja di masa depan.

+ posts

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis dan kreator konten yang bersemangat, dengan fokus pada gaya hidup, budaya, dan tren terkini. Jessie menghadirkan konten yang menarik dan informatif, yang bertujuan menginspirasi pembaca, memicu rasa ingin tahu, dan memberikan informasi yang bermakna.