
Harga minyak dunia melonjak sekitar 4 persen pada perdagangan Senin (13/7/2026) setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Eskalasi terbaru meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan pelayaran dan potensi gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia.
Harga minyak mentah Brent naik US$3,10 menjadi US$79,11 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$2,95 menjadi US$74,36 per barel. Lonjakan tersebut terjadi setelah kedua negara kembali melancarkan serangan pada akhir pekan.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat menyerang sejumlah target di Iran. Teheran kemudian melancarkan serangan balasan yang menyasar pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Rangkaian serangan tersebut kembali mengguncang pasar setelah sebelumnya muncul harapan bahwa komunikasi diplomatik dapat meredakan konflik.
Perhatian investor terutama tertuju pada Selat Hormuz. Jalur sempit tersebut memiliki posisi strategis karena sebelum konflik menjadi rute bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan itu dapat membatasi pasokan energi global sekaligus meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi.
Kekhawatiran pasar semakin besar setelah aktivitas pelayaran menunjukkan penurunan. Data pelacakan kapal yang dikutip Reuters menunjukkan hanya enam kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Minggu, jumlah terendah dalam lima pekan. Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa eskalasi militer dapat kembali menghambat pemulihan arus perdagangan energi.
Meski Presiden AS Donald Trump menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka, Iran mengklaim telah menutup jalur tersebut setelah insiden yang melibatkan sebuah kapal tanpa izin. Perbedaan pernyataan kedua pihak membuat ketidakpastian mengenai keamanan pelayaran tetap tinggi.
Lonjakan harga minyak juga menunjukkan rapuhnya upaya meredakan konflik AS-Iran. Pasar sebelumnya sempat berharap perundingan kedua negara dapat menekan risiko geopolitik dan memperlancar kembali pengiriman energi. Namun, serangan terbaru kembali meningkatkan premi risiko pada harga minyak.
Ke depan, arah harga minyak diperkirakan sangat bergantung pada perkembangan konflik dan kondisi pelayaran di Selat Hormuz. Jika eskalasi berlanjut dan pasokan kembali terganggu, tekanan kenaikan harga dapat bertahan. Sebaliknya, meredanya ketegangan dan pulihnya arus kapal berpotensi menurunkan kembali premi risiko geopolitik di pasar energi.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis dan kreator konten yang bersemangat, dengan fokus pada gaya hidup, budaya, dan tren terkini. Jessie menghadirkan konten yang menarik dan informatif, yang bertujuan menginspirasi pembaca, memicu rasa ingin tahu, dan memberikan informasi yang bermakna.
