
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menilai kesepakatan damai yang baru dicapai antara Amerika Serikat dan Iran tidak lepas dari tekanan yang dihadapi Presiden AS Donald Trump. Menurutnya, Washington menggunakan berbagai upaya diplomatik untuk mengamankan kesepakatan tersebut karena berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.
Pernyataan itu disampaikan setelah penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua negara yang bertujuan meredakan ketegangan berkepanjangan di kawasan Timur Tengah. Mojtaba menyebut dirinya menyetujui kesepakatan tersebut meskipun memiliki sejumlah pandangan berbeda mengenai isi dan implikasinya.
Dalam penjelasannya, Mojtaba mengatakan keputusan itu diambil setelah menerima jaminan dari pemerintah Iran bahwa kepentingan nasional negara tersebut tetap menjadi prioritas utama. Ia juga menegaskan persetujuannya tidak berarti Iran menerima seluruh posisi yang diinginkan Amerika Serikat.
Kesepakatan damai ini menjadi salah satu perkembangan diplomatik terbesar di kawasan dalam beberapa tahun terakhir. Namun respons terhadap perjanjian tersebut beragam, baik di Iran maupun di Amerika Serikat. Sejumlah pihak menilai kesepakatan itu membuka peluang stabilitas regional, sementara pihak lain menganggapnya terlalu banyak memberikan konsesi kepada lawan.
Pernyataan Mojtaba juga memicu respons dari Trump yang menolak anggapan bahwa dirinya berada dalam posisi terdesak. Mantan presiden AS itu justru menyebut Iran sebagai pihak yang membutuhkan kesepakatan untuk menghindari tekanan ekonomi dan geopolitik yang lebih besar.
Shama is a Content Specialist and News Writer with 4.5+ years of experience in journalism, press release writing, SEO content, and digital publishing. She covers business, technology, blockchain, cryptocurrency, finance, and corporate communications, delivering research-driven content for media platforms and global audiences.
